Minggu, 14 Juni 2026

EE Mangindaan Diajak Naik KRL Pada Jam Sibuk

Mangidaan diharapkan dapat melihat gambaran langsung kondisi KRL Jabodebatek. T

Tayang:

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - KRL Mania mengajak Menteri Perhubungan EE Mangidaan untuk menggunakan kereta api Jabodetabek sebagai alat transportasi. Mangidaan diharapkan dapat melihat gambaran langsung kondisi KRL Jabodebatek. Tujuan lainnya agar target KRL Jabodetabek dapat mengangkut 1,2 juta penumpang pada tahun 2019 dapat tercapai.

"Kami ingin mengajak Bapak untuk mencoba perjalanan pada jam sibuk pada lintas Bogor-Gambir, pada kurun 19 Oktober – 29 November 2011, dimana ada perbaikan beberapa gardu listrik di lintas tersebut. Ada pengurangan sekitar 29 perjalanan dan diperkirakan sekitar 29 ribu penumpang tidak terangkut," kata humas KRL Mania, Agam Faturochman dalam rilisnya, Jumat (21/10/2011).

Agam mengatakan pihaknya siap mengawal Mangidaan dalam perjalanan di kereta  agar dapat memberikan masukan secara langsung apa adanya. KRL Mania melihat adanya kesimpangsiuran informasi mengenai perbaikan gardu listrik untuk penambahan daya. Menurut Agam hal itu  membingungkan pengguna dan menunjukkan kurangnya koordinasi internal.

"Sebelumnya diinformasikan di berbagai media oleh pejabat Ditjen KA kalau pekerjaan 19 Oktober-29 November ini adalah penambahan daya. Sementara informasi oleh pejabat Ditjen KA lainnya, pekerjaan ini hanya rehabilitasi gardu yang sudah sering rusak, tanpa penambahan daya," katanya.

Agam juga menilai pihak pengelola kereta api Jabodetabek juga tidak proaktif dalam perencanaan yang dilakukan untuk kepuasaan pelanggan. Mereka,kata Agam, hanya meminta penumpang kereta mencari moda transportasi lain.

"Dari awal kami memberikan saran agar pengurangan perjalanan lintas Depok-Bogor dapat dikompensasi dengan dioperasionalkan kereta non listrik semisal KRD (Kereta Rel Diesel) dan penambahan gerbong di tiap rangkaian, seperti halnya di Jepang sebagai asal KRL yang dioperasikan," Imbuh Agam.

KRL Mania mencatat hingga H-2 perbaikan daya yakni 17 Oktober 2011 masih diinformasikan akan beroperasi dua KRD. Tapi pada 18 Oktober 2011 diinformasikan kalau dua KRD tidak jadi, tanpa ada kejelasan angkutan pengganti. Kemudian pada 19 Oktober, tiba-tiba tanpa diinformasikan ke penumpang sebelumnya, ada 15 bus yang siap mengangkut penumpang di stasiun Bogor. Hanya saja pada 20 Oktober (H+1), bus-bus tersebut ditiadakan. "Tampak kurangnya contingency plan yang jelas dalam memitigasi risiko gangguan perjalanan," ungkapnya.

Padahal, kata Agam, perlu dilihat juga yang tidak terangkut bukan hanya penumpang dari stasiun Bogor, tetapi juga stasiun antara seperti Citayam, Bojonggede, dan Cilebut yang memang mengandalkan KRL sebagai alat transportasi utama mereka. Di ketiga wilayah tersebut, kurang sekali alternatif angkutan lain yang cukup memadai. Kalau pun penyediaan bus dilanjutkan, perlu disebar ke wilayah-wilayah tersebut.

KRL Mania juga menyesalkan ketidakmampuan membuat perencaan itu  dengan mengoperasikan KRD, gerbong tambahan atau bus. Ketidakmampuan itu dikompensasi melalui pendekatan keamanan lewat tambahan aparat kepolisian.

KRL Mania juga menganggap manajemen  proyek kurang optimal.  Perbaikan ini sebenarnya bisa dilakukan sejak awal tahun 2011, dan bahkan sejak lima tahun yang lalu, karena kerusakan sistem kelistrikan (gardu, LAA) di jalur Depok-Bogor sudah terjadi sejak lama.

"Keterlambatan pekerjaan ini merupakan indikasi kurangnya kemampuan dalam manajemen proyek. Bahkan pada H+1 belum tampak ada mobilisasi pekerjaan, sementara pengurangan perjalanan sudah dilakukan," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved